Senin, 22 Desember 2014

HAKIKAT DAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA


Sebelum mempelajari matematika, kita harus mengetahui tentang hakekat matematika itu sendiri. Hakekat matematika adalah menguraikan tentang apa itu matematika sebenarnya, apakah matematika itu ilmu deduktif, ilmu induktif, simbul-simbul, ilmu yang abstrak, dan sebagainya (Ruseffendi, 1991: 260).Tanpa mengetahui hakekat matematika kita tidak dapat menentukan strategi belajar yang akan digunakan dalam pembelajaran matematika.

Matematika berasal dari kata mathema dalam bahasa Yunani yang diartikan sebagai sains, ilmu pengetahuan atau belajar. Matematika juga berasal dari kata mathematikos yang diartikan sebagai suka belajar (Manfaat, 2010: 148).
Banyak pakar yang mendeskripsikan tentang pengertian dari matematika, namun pada dasarnya ungkapan yang tepat untuk matematika itu adalah Mathematics is the Queen of the Sciences (maematika itu adalah ratunya ilmu), maksudnya antara lain ialah bahwa matematika itu tidak bergantung kepada bidang studi lain; bahasa, dan agar dapat dipahami orang dengan tepat kita harus menggunakan simbul dan istilah yang cermat yang disepakati secara bersama (Ruseffendi, 1991: 260-261).
Berdasarkan pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa matematika merupakan ilmu pengetahuan yang tidak bergantung pada bidang studi yang lain, yang dapat dipahami oleh orang dengan penggunaan simbul dan istilah yang cermat.
Menurut Budi Manfaat (2010: 150) matematika dapat dikenali beberapa ciri-cirinya adalah sebagai berikut:
a.       Memiliki objek abstrak
b.      Bertumpu pada kesepakatan
c.       Berpola pikir deduktif
d.      Memiliki simbol yang kosong dari arti
e.       Memperhatikan semesta pembicaraan
f.       Konsisten dalam sistemnya.
Matematika sebagai ilmu pengetahuan memiliki suatu objek langsung. Objek langsung dalam matematika ialah fakta, keterampilan, konsep, dan aturan (prinsipal). Untuk mempelajari objek-objek langsung, ataupun untuk mempelajari topik-topik dalam matematika tidak dapat sembarang; ada prasyaratnya (Ruseffendi, 1991: 268). Misalnya, untuk dapat memahami arti perkalian peserta didik harus memahami dulu penjumlahan, karena itu penjumlahan harus dipelajari terlebih dahulu dari perkalian.
24
Menurut Saepul, dkk (2008:10), dalam peraturan menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 dikemukakan bahwa, mata pelajaran matematika diajarkan di sekolah bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
1.   Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akuran, efisien dan tepat dalam pemecahan masalah.
2.   Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.
3.   Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.
4.   Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah.
5.   Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Matematika yang “diciptakan” oleh manusia terlebih dahulu, memberi ilham bagi paradigma pembelajaran yang bersifat konstruktivistik sebagai bentuk implikasi sejarah matematika dalam pembelajaran. Siswa-siswi diperbolehkan menggunakan usahanya sendiri dalam menyelesaikan masalah matematika. Bahkan, mereka diberi kebebasan untuk menggunakan bahasa dan lambang sendiri (Saepul. dkk, 2008: 5).
Menurut Rusmono (2012: 6-7) pembelajaran merupakan suatu upaya untuk menciptakan suatu kondisi bagi terciptanya suatu kegiatan belajar yang memungkinkan siswa memperoleh pengalaman belajar yang memadai. Sedangkan, menurut Dewi Salma Prawiradilaga (2008: 19) pembelajaran diartikan sebagai KBM konvensional dimana guru dan peserta didik langsung berinteraksi. Pengertian pembelajaran diungkapkan kembali oleh Trianto (2009: 17) bahwa pembelajaran hakikatnya adalah usaha sadar dari seorang guru untuk membelajarkan siswanya (mengarahkan interaksi siswa dengan sumber belajar lainnya) dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan.

25
Dari pembahasan diatas mengenai matematika dan pembelajaran dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika merupakan proses interaksi antara pendidik dengan peserta didik yang melibatkan pengembangan pola berfikir dan mengolah kemampuan logika pada suatu lingkungan belajar agar program belajar matematika berkembang secara optimal dan menjadikan proses pembelajaran efektif dan efisien.

0 komentar: